Long road to heaven, a review
February 5th, 2007 by dibyakusyala
Nia Dinata, sounds a name of breakthrough of Indonesian film maker. Lewat film baru yang disponsorinya, long road to heaven, bercerita tentang bom bali yang merupakan satu dari serangkaian true event, yang 2002an pastinya sempat membuat kita memusatkan perhatian ke layar kaca berita bangsa yang carut marut akibat beruntunnya bencana, korupsi, dan sederet kejadian lain yang membuat kita waktunya terus bersabar dan membentengi diri dengan keyakinan dan pengetahuan yang selayaknya.
Di film ini diceritakan sebuah kisah dengan alur yang agak ceplak cepluk antara zaman persiapan pengeboman kelompok yang ntah mengapa nampak kurang ‘neroris’ dan kurang digambarkan ‘militan’, dan masa2 7 bulan kemudian saat diadilinya amrozi, imron, dan imam samudra.
Penggambaran masa sesudah pengeboman relative lebih enak ditonton dengan deskripsi suasana pengadilan para tersangka, tapi saat detik2 pengeboman yang dby pribadi penasaran berat kok kerasanya hambar pisan.. acting surya dan alex komang kikuk dengan penggambaran karakter yang kurang kokoh sebagai hambali dan wayan seorang yang traumatis akibat bomb. Mereka ga ada pun bisa jadi membuat film ini lebih baik, karena perannya selain insignifikan, juga bikin males yang nonton gara2 keluar dengan dialog lambat2, dan memperlama durasi tayang dengan diam *mmmrrrggghh…*
Secara umum nonton film ini seperti ngeliat adegan rekonstruksi atau rada2 dokumenter dengan pengambilan gambar yang sedikit ngameramen lah… Ga ada unsur pengelaborasian kisah yang membuat terhanyut atau setidaknya menjadi paham kecuali pertanyan ‘kok?’ yang berulang saat adegan terjawabnya pemilihan pulau bali akibat Muklas yang diperlakukan dengan kurang sopan saat mau masuk lift,(inikah penggambaran piciknya pemahaman Islam *pada beramai pemeluknya dengan cara lagi2 mencemooh* oleh media yang kuat dan selalu direpetisi pada berbagai kejadian?)
Atau imron yang meninggalkan arnasan yang tiba2 siap mati sedang dianya sendiri kabur, juga si samudranya sendiri yang ga meledakkan diri bersamaan dengan bom di konsulat amerika di bali, lah.. katanya militant dan siap mati sahid (dan di awal dibilang akan diledakkan sendiri oleh dia) kok tiba2 didelegasikan gitu aja?
Atau juga amrozi yang memasukkan gambar porno ke laptop samudra karena masalah personal (namun tepatnya memberi pertanyaan tentang semilitan apa si Amrozi yang bela2in berteriak dengan lantang Allah is the Great namun masih browsing gambar2 begituan),
Dan pertanyaan besar yang terus mengganjal dan bikin gemes kalimat long road to heaven itu sendiri keluar dalam sebuah dialog yang bisa jadi obrolan sangat ringan dari kejadian yang terselip di antara beberapa adegan utama yang menimbulkan trauma dahsyat bagi warga Bali dan juga muslim mayoritas yang sejatinya menjunjung tinggi kedamaian dengan penyelesaian cara2 yang bijak. Andai feeling long road to heavennya dapat dengan cara lain, mungkin yang keluar dari gedung bioskop lebih jadi mikir dan ngerasa dalem, nyatanya ga tuh.. yang tergambar malah pemahaman yang rendah dari sekelompok yang konon kabarnya militant dengan aksi teroris, nah film ini jadi membingungkan dengan makin mempersempit makna nilai-nilai agama tertentu yang mendasar dengan kurang proporsionalnya penggambaran sebuah kejadian.








