a garden of love..
October 3rd, 2007 by dibyakusyala*dedicated to KALAM; Ardhi, Yayan, Lukman, Datuk, Mas Romli, Muslim, Irwan, Mas Syafiq, Mas Yono, Bang Usman, Idham siapapun yang dulu dan sekarang pemakmur
Muhajirin..*
julukan yang pas untuk lingkungan tempat tinggalku sekarang
Namanya Sadang Serang, tepatnya 5 kilo masuk dari Tubagus Ismail kalo kita di daerah Simpang Dago. Sekitar 10 menit dari kampus ITB dan 5 menit dari Simpang (dengan motor tentunya). kalau dengan transportasi lain ntah-ntah, soalnya sering mendadak macet akibat pasar tumpah di sekitar pertigaan Tubagus-Dago. .
Garden of love, istilah ini ketemu pas dulu ikutan sayembara desain nusa dua dua nusanya Bali Tourism Development Centre, (yang ujung2nya dikerjain solo oleh adriyan ,worthed kan bos.. kerja keras ente akhirnya diakui standard Singapore :p, btw kita setim sampai saat ini penasaran dibikin kayak apa ama tu tapak hehe..) yang pas waktu itu aku susah ngebayangin.. ntah kenapa, mungkin ada pertanyaan dalam yang belum tertemukan jawabannya, apa sih cinta? Alaghh..
Dan istilah yang sama tiba2 terasa menjadi frasa yang tepat untuk menggambarkan Sadang Serang ini juga setelah dirasakan dan ditinggali sekitar 3 tahunan
Sebenernya secara fisik standard perumahan , Setting standard rumah deret sederhana yang seiring waktu direhab oleh penghuni2nya, lebar kapling seimbang dan akses pedestrian yang secukup motor lewat. Di jalur2 ini anak kecil berlarian, bermain serta terjadi pertemuan antar penghuni kampung setiap harinya sekedar gosip nungguin anak sekolah TPA atau ngumpul saat jam Mang Sayur lewat.
Tapi kalo diamati lebih jauh tingkat komunikasi, hubungan serta keintiman antar penghuninya top abis! Masjid bisa disebutkan pusat orientasi lingkungan, dia makmur sekali dengan beragam aktivitas. Apalagi bulan Ramadhan ini.. setiap sore ada jadwal buka bareng yang selalu melimpah ruah ta’jil juga penduduk berkumpul bersama bertukar makanan dan cerita. Wiken pun ramai dengan Ramadhan Championship, Pesantren Kilat, juga Tabligh Akbar yang bisa dibilang sukses dengan bejubelnya pengunjung, terutama anak-anak kecil yang ntah kenapa banyakk pisann.. kalau berdasar runutan penghuni, rata2 anak2 ini generasi kedua yang bersamaan berkembang. Atau anak dari anaknya penghuni pertama.. baby boom lokalan lah..
Yang membuat aku tercengang saat Ramadhan Championship, anak2 seusia 4 SD dengan body minim pengetahuannya dah mayan jago uy! Jadi malu.. palagi saat liat adu cerdas tangkas dengan pertanyaan tarikh Islam dan pertanyaan2 pengetahuan Islam semacam, :
- siapakah sahabat Rasul yang selamat saat Perang Badar?
- sebutkan sepuluh malaikat dan masing2 tugasnya!
- ada berapa ayat surat Ali Imron?
…
…rrrr…
beberapa pertanyaan yang nampaknya standard aku merasa susah untuk menjawab, inikah yang disebut kebodohan jiwa.. ?
sebuah pelajaran berarti dari Sedang serang adalah pola hubungan masyarakat yang indah dalam bingkai hablum minannas, dimana anak2nya dibina oleh keluarga, juga voulenteer mahasiswa pendatang menjadi cerdas.. menghasilkan lingkungan yang sarat dengan komunikasi dan perhatian satu dengan lainnya,
kalau negeri ini diurus dengan bener mungkin mereka berpendidikan lebih tinggi, lebih kreatif hingga ujung2nya semua pihak produktif. Tinggal dipoles ketrampilan khusus dan sedikit modal, bisa jadi mungkin jauh lebih baik kampung kosku ini. Atau akan sebaik Kasongan ’gerabah’ di Jogja, Sukawati di Gianyar, celuk, Mas, Peliatan, dan desa kerajinan lain di Ubud, Sanan ’tempe’ di Malang
hubungan intim inilah potensi kampung kota yang bisa jadi solusi pembinaan masyarakat di luar jalur formal yang terasa semakin jauh, terbang tinggi bersama mimpi… i wish i could do something these last 3 years..
Selepas kuliahku ini, mungkin segera pindah jauhh.. tapi pastinya tetap rindu akan kehangatan Sedang Serang.. nuhun pisan sadayana..






