Archive for April, 2008

membayangkan jakarta dalam angka

Tuesday, April 22nd, 2008

tulisan ini dibuat ami 99 dan menarik buat dibaca..

Jakarta untuk Hidup atau Tempat Kerja?

Kompas, 19 Oktober 2004

SEJUMLAH 35 persen, atau 1.652.316 m², dari total (yaitu 4,7 juta m²) supply ruang perkantoran di Jakarta terdapat di lapis pertama barisan gedung sepanjang Jalan Thamrin-Sudirman. Demikian hasil perhitungan 17 mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia dan satu sukarelawan dari Amerika Serikat yang dilakukan dalam rangka “Membayangkan Jakarta”, sebuah program kolaborasi arsitek dan seniman. Sedikitnya, 165.000 orang bekerja di area itu. Sekitar 4.700 orang adalah eksekutif (2,9 persen), 14.500 orang adalah manajer (8,8 persen), 48.500 orang adalah supervisor (29,4 persen), dan 97.000 orang adalah staf (58,8 persen).Di manakah mereka bertempat tinggal? Data 91 pekerja pada kelompok eksekutif sampai supervisor salah satu perusahaan di Wisma Darmala menampilkan bahwa hanya satu orang saja yang tinggal di Jalan Sudirman. Ada kecenderungan bahwa semakin rendah posisi pekerja, semakin jauh jarak tempat tinggalnya. Kelompok manajer rata-rata tinggal pada radius 15 km, sementara kelompok supervisor bermukim pada radius 25 km dari lokasi kantor. Perusahaan ikut memfasilitasi pembelian rumah bagi pekerja yang umumnya digunakan oleh kelompok supervisor dan staf, hanya saja jaraknya dari kantor adalah 41 km.Fenomena di atas membuat kita sadar bahwa hunian tersedia di kawasan jauh dari keterjangkauan pekerja pada umumnya. Dengan jarak kantor dan rumah tinggal yang relatif jauh, bagaimanakah kelompok masyarakat ini melakukan perjalanan? Salah satunya adalah dengan mobil pribadi. Standar DKI Jakarta adalah satu mobil per 100 m² luas lantai perkantoran, sementara Sudirman Square (dulu Wisma Danamon) menyediakan lahan parkir untuk satu mobil per 50 m² lantai. Anggap saja kapasitas parkir yang tersedia adalah satu mobil per 75 m² lantai, maka ada 22.000 mobil menggunakan parkir di dalam 104 gedung yang disurvei di Jalan Thamrin-Sudirman.

Apakah angka di atas berlebihan? Sudirman Square dengan area kantor sewa seluas 81.000 m² memiliki kapasitas parkir 1.600 mobil. Namun, data harian dua menara perkantoran ini menyatakan bahwa terdapat jumlah mobil tetap sebanyak 2.025 dan parkir tidak tetap (casual- untuk tamu) rata-rata 247 per harinya. Jumlah 2.272 mobil adalah 42 persen lebih banyak daripada kapasitas parkir yang disediakan. Jika hal ini terjadi pada seluruh gedung tersurvei, jumlah mobil yang melayani perkantoran lapis pertama sisi Jalan Thamrin-Sudirman adalah 31.285 unit.

Jika jumlah mobil ini dideretkan seluruhnya di Jalan Thamrin-Sudirman (total 10 lajur), akan mencapai 15,7 km, yaitu hampir dua setengah kali panjang jalan itu, yang hanya 6,3 km. Kalau barisan mobil ini dimulai dari ujung selatan Jalan Sudirman, ujungnya akan melewati Pelabuhan Sunda Kelapa. Sekarang kita menjadi yakin benar akan penyebab macetnya Jakarta, yaitu mobil pribadi!

Dapat dibayangkan bahwa mobil pribadi umumnya dipakai oleh sekitar 20 persen teratas dari seluruh pekerja, yaitu para eksekutif, manajer, dan sebagian supervisor. Sisa pekerja, yang sebagian besar adalah staf, menggunakan kendaraan umum. Komposisi kelompok pekerja pengguna bus kota ini sangat mungkin didominasi oleh perempuan. Pada sebuah perusahaan di Jalan Sudirman, hanya ada satu perempuan atau 12,5 persen dari 8 direktur, 8 perempuan atau 25 persen dari 32 manajer, dan 21 perempuan atau 41 persen dari 51 supervisor. Jika data ini diteruskan sampai staf, bukan tidak mungkin proporsi jumlah tenaga kerja perempuan menjadi makin besar lagi. Sementara pekerja laki-laki bisa memilih sepeda motor.

Mobil pribadi yang memonopoli badan jalan sampai keluar kawasan ini sesungguhnya hanya mengangkut sedikit. Kalau 31.285 mobil itu diganti dengan bus, dibutuhkan hanya sekitar 900 bus untuk mengangkut jumlah penumpang yang sama, dan jika dibariskan 10 lajur hanya memenuhi penggal jalan dari Bundaran HI-Stasiun Dukuh Atas. Bergabung dengan kelompok pekerja lain pengguna setia bus kota, sebut saja total 95 persen pekerja memanfaatkan fasilitas bus kota, badan jalan yang dipenuhinya pun hanya dari Bundaran HI-Semanggi. Betapa lengangnya jalan-jalan kota kita.

MOBIL pribadi tidak hanya memakan badan jalan, tetapi juga menambah polusi. Rata-rata tahunan konsentrasi polutan Jalan Thamrin termasuk yang tinggi dibandingkan dengan bagian lain kota, bahkan tercatat parameter NO>jmp 2008mkern 199mh 6024m,0w 6024mjmp 0mkern 200mh 8333m,0w 8333m< yang tertinggi. Konsentrasi polutan menaik tajam pada pagi dan sore hari.

Pertumbuhan tahunan kendaraan bermotor di Jakarta memperlihatkan bahwa komposisinya semakin didominasi oleh mobil pribadi dan sepeda motor. Pada tahun 1998, komposisi kendaraan bermotor adalah 29 persen mobil pribadi, 10 persen truk, 8 persen bus, dan 54 persen sepeda motor. Tahun-tahun berikutnya, jumlah mobil pribadi sekitar 31 persen dan sepeda motor 59 persen. Pada tahun 2015, komposisi mobil penumpang dan sepeda motor dalam populasi kendaraan bermotor di Jakarta, Bekasi, dan Depok diperkirakan menjadi sama.

Mobil-mobil di Jalan Thamrin-Sudirman sedikitnya membutuhkan area parkir seluas 510.000 m². Jika dijadikan rumah, luas ini dapat menampung 9.000 keluarga lengkap dengan fasilitas umum perumahan. Jika dijadikan fasilitas pengasuhan anak, area seluas itu dapat menampung lebih dari 41.000 anak.

Sementara itu, foto udara Jakarta 2003 menunjukkan adanya lahan menganggur sedikitnya 100 ha pada radius 700 m menjauhi dua sisi Jalan Thamrin dan Sudirman. Lahan seluas ini dapat menampung 37.000 keluarga atau 148.000 jiwa di dalam bangunan empat lantai, dengan asumsi koefisien lantai bangunan 2, koefisien dasar bangunan 50 persen, dan setiap keluarga mendapat 54 m² satuan rumah susun. Dilengkapi perubahan fungsi lahan parkir yang ada menjadi fasilitas umum dan fasilitas sosial, kawasan ini menjadi hunian yang tinggi keragamannya. Sebab, Jakarta memang berpotensi untuk hidup, bukan sekadar tempat bekerja.

Prathiwi Widyatmi Asisten Program dan Penelitian “Membayangkan Jakarta”

1100607653_05bbbdc1e5_5

earthday.

Tuesday, April 22nd, 2008

Hari_bumi_1

Bumiku satu, bulat dan tidak membesar, yang pasti penghuninya makin padat, dan karenanya terjadi perubahan2 yang konon menuju kondisi yang kurang baik. Air laut meluap, iklim berubah, ketidakjelasan cuaca, juga makin menumpuknya 6 zat buangan berbahaya (ditengarai sejak 1997 saat Kyoto Protocol). Lambat laun semakin mendekati kepastian bahwa tugas kita bersama untuk merawatnya.
Kalimat2 di atas standard ya, normatif! Tapi ternyata sudah banyak kelompok orang yang peduli melakukan usaha perubahan sesuai dengan profesinya, kalo browsing di internet, banyak kota di Negara maju sudah memasukkan agenda ‘hijau’ untuk mengurangi dampak mikro dari perubahan2 yang kurang baik tersebut. kayaknya pemerintah tuh ngeh banget dengan kondisi ini, liat aja penanggulangan sampah, penggunaan transportasi umum, pembangunan kawasan sampai sadetaildetaile dijlentrehkan di situs2 pemdanya. Juga perusahaan2 besar mulai berfikir ‘go green’. Ada yang mendaur ulang benda2 buangan menjadi barang yang benar2 juga pengemasan dan material produk yang kalo dah ga kepake lagi mudah didegradasi.
Sekilas dilihat oke banget ya yang mereka lakukan, tapi kalo mengamati analisa beberapa peneliti lingkungan, ternyata terdapat data yang berbeda dan mencengangkan! Disebutkan bahwa bila semua manusia penghuni bumi ini hidup dengan cara kebanyakan orang Amerika maka kita membutuhkan planet persis bumi sebanyak 7 buah! Dan kalo kita hidup dengan cara orang Australia kita butuh bumi sebanyak 4 buah. Waa.. orang Indonesia berapa ya? Kalo dilihat data tersebut, Indonesia malah jauh memenuhi standard keberlanjutan pada beberapa aspek. Maksudnya bila manusia sebumi hidup dengan cara hidup orang kita, bumi kita ini masih cukup2 aja, ada anekdot dari seorang peneliti Australia, beliau mengamati perubahan sumberdaya alam dengan membandingkan ukuran *sorry* pakaian dalam kita yang makin kesini makin minim, selain kapas makin mahal dan langka buminya juga makin panas soalnya.
Hehe, tapi jangan bangga dulu, masing2 ada untung ada ruginya, kalau dilihat dari pola pemanfaatan sumber daya alam per individu kita emang lebih irit, hidup kita di Indonesia jauh lebih hemat sumberdaya banget dibanding cara hidup orang luar negri. Di saat orang bule nyukur jenggot aja pake cukuran listrik kita masih pake pisau kerik yang superduper tajam, (seperti tukang cukurku di sedang serang hehe) Tapi secara jamaah Indonesia dinilai kurang maksimal menerapkan agenda ‘go green’ ini. Lihat saja public transport masih saja menggunakan otomotif dan jalan aspalnya, macetnya ituuu! sepertinya penggunaan mass rapid transportation (busline, monorail, subway, trem) sudah tidak bisa ditawar lagi. Juga hypermarket yang terus memproduksi sampah plastik untuk penggunaan tas gratis pembungkus barang belanjaan. (sejauh ini baru Carrefour dan tiara dewata *cerita ikeow* yang menggunakannya,)
Ujung2nya bisa kita kutip tips cerdas aa gym, yang kayaknya pas banget di momen hari bumi 22 april ini, 3m (mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini juga)
Mulai bawa tas belanjaan dari rumah, mulai ngangkot atau motor daripada bermobil kalo bepergian sendiri, mulai memilah barang2 kurang berguna, mulai menanam pohon di lingkungan sendiri, mulai mengurangi pemakaian listrik yang berlebihan dan mubadzir, mulai membuang sampah pada tempatnya, dan mulai segalanya, dengan niat yang baik untuk menjaga lingkungan insyaAllah bernilai lebih di mata Tuhan juga, yah begitulah terakhir mengutip kata bijak environmentalis bule (yang gw lupa siapa tapi sering disebut2 Pak Budi Faisal di kelas Sustainable Development), “bumi ini tidak cukup untuk memenuhi keinginan satu orang saja, meski sebenarnya kapasitas bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia bila ia sadar porsinya dan pandai merawatnya” meski penduduknya selalu bertambah. Sungguh Maha Besar Allah,
Anyway Selamat hari bumi!, meski penerapannya seharusnya ga di hari ini aja.. semoga hari ini menjadi momen yang baik menuju perubahan lingkungan kita, sekaligus mengingatkan diri sendiri juga :p hehe,

BEURGEUR, semua indah ketika pada waktunya

Sunday, April 6th, 2008

Burgeur BEURGEUR adalah nama sebuah brand ‘warung’ indie untuk makanan cepat saji kecil2an di jalan tubagus ismail raya, Bandung, sekilas kalo ngeliat kiosnya keliatan ditata pas banget. Dengan desain logo yang grafis abis, yang juga terkesan provokatif (cewek menganga makan burger bulat2) juga warna sliding door kiosnya yang merah mencolok. Setting kiosnya juga menarik dengan kursi bar 4 buah memenuhi fasad kios yang hanya  selebar 3.5 meter yang semuanya flat mirip orang jualan jamu tradisional, tapi ini dengan elemen yang modern. Itu semua membuat gw penasaran gimana rasa burger yang dijualnya. Makanan yang ditawarkan emang cuma burger dengan 10 macem pilihan, yang variasinya terbagi dengan jenis isian: ayam, sapi atau tuna, juga kadar temen2 isian tersebut: ntah kejunya, sawinya atau temen2nya yang gw kurang paham secara pasti.

anehnya setiap gw niatin buat beli BEURGEUR  dengan nyetir motor ke kios itu pasti aja lagi tutup, sebelnya kalo gw bela2in pas laper ga makan malam dulu demi si BEURGEUR ini, dia juga pas kebetulan tutup juga. Lebih aneh lagi kalo gw buru2 karena ada janji atau deadline kerjaan, si BEURGEUR jelas2 buka. Dan ga ada yang beli. Penasaran ga si diginiin? (hehehe, hiperbola)

ditambah lagi beberapa oknum dengan provokatif pula makin menambah rasa penasaran gw akan BEURGEUR ini, konon temen2 gw pernah ngasih testimonial;____Samsul (yang juga penasaran); iya BEURGEUR itu katanya enak bgt, tapi kalo lewat tubagus pasti tutup, ujan gerimis dikit, dah langsung tutup, dulu gw pernah bungkus beliin istri gw, kayaknya enak banget _______Lad* (konon culinary expert); ya tuh dib burgernya enak lembut banget.. tapi kayaknya yang bikin mahasiswa de, soalnya kalo gw dah niat kesitu jam2 siang pasti dia tutup mungkin lagi kuliah kali ya hehehe* gw sampe nelen ludah, glek!*________Yar**si (temen kos); ya enak tuh beli gih kalo lo beli gw pasti nitip hehehe, jangan lupa yaa (sejak malam itu si Yar**si ini setiap gw balik dari mana pun selama 2 minggu berturut selalu nanya mana BURGEURnya? Wa. Sumpah mati aku jadi penasaran, btw ga usah dinyanyiin dengan irama dangdut ya hehe)____Dadi (temen sekamar gw Bali trip), oo kos lo di sedang serang? Gw bela2in ke tubagus dari jatinangor buat beli itu apaaa BURGEUR? Ya enak banget yaa..

* glleeeekkk, wa wa gw bakal nyesel kalo suatu hari gw meninggalkan bandung dengan kondisi belum makan si BEURGEUR ini!*

Setelah penantian selama 6 bulan akhirnya gw mendapatkan kesempatan emas itu juga, tanpa diniatin karena dah ga berharap lagi,  BEURGEUR pas buka dan pada saat itu gw belum makan malam! Kebetulan yang indah, Baaagguusss.. aku beli 2 paket cheese tuna burger plus bun ama yang sapi buat temen kos, dan dengan noraknya sambil nyetir legenda, sambil deg2an pula hahaha, ‘gimana ya rasa si BEURGEUR ini? sesampai di kos sebelum dimakan, sempet difotoin dulu,  dang a lupa disyukuri karena setelah sekian lama akhirnya..

Emang kalo dah jodoh, dan pada saatnya semua menjadi menyenangkan, rasanya ntah yaa enak atau standard tapi yang pasti gw bener2 menikmati roti yang mengapit lelehan tuna nyampur keju dengan slada dan tomat serta timun2 itu.. senengg bangeett. hehehe, semua emang indah ketika pada waktunya..

Terselip doa supaya dimudahkan setiap keinginan2 yang masih banyak yang belum diraih ;) dan semoga semua itu nantinya terasa indah, amin.

TUKUL!

Sunday, April 6th, 2008

Tukul ini juga masalah jodoh, ga dinyana pas mau balik ke Jakarta dari Ngurah Rai, tiba2 sekitar 2 bangku di samping kanan ruang tunggu ada bapak tukul * hehhehe* , sontak gw langsung mengenali, dia juga ikutan kaget langsung dengan jurus sok kenal sok deket langsung nembak, “Mas Tukul ya?” hehehe norak!, trus pede jaya minta foto bareng lagi(taken by Dadi). Karena sama2 berRas jawa, sempet ngobrol dengan beliau, pake bahasa jawa juga lah, sekilas Nampak kali kalo Tukul ini sangat ramah dan tahu dirinya dikenali oleh banyak orang dengan supelnya dia melambaikan tangan pada setiap orang yang ragu-ragu bisik-bisik atau ngelarak ngelirik, wah wah “waspadalah!” hehehe, ntah tiba2 gw ngerasa sangat mudah pada posisi beliau saat itu, keramahan menjadi kesombongan, semoga tidak yaa

kalo dipikir2 kenapa ya gw mendadak berseri ketemu tukul, separah itukah tontonan TV gw, yang kalo diingat2 emang sarat dengan tampilan ‘artis’ atau yang diistilahkan ‘seleb’ di hampir setiap detik tayangan.  Mulai dari sinetron, video musik, film, sampai iklan di TV, majalah, internet, Juga tabloid di lampu merah membuat tiba2 gw nganggap mereka kelompok yang jauh lebih beruntung..

duh jangan sampai, naudzubillah, mungkin orang2 seperti Tukul ini justru sebaiknya gw kategorikan sebagai manusia yang sedang diuji dengan kelebihan material dan sanjungan dari banyak pihak. Semoga beliau dapat menjalani dengan baik semua ini.. heheheh sok filosofis bgt yaa…

masih dengan sedikit norak, gw masih mikir jangan2 satu pesawat, hihihi mana mungkin orang gw naik Batavia yang jelas-jelas murah meriah.

ternyata emang salah, beliau naik Garuda Indonesia, pemberangkatan pagi itu. Pada saat yang sama gw telpon mb Tenri (sobat yang di Narmada, Lombok yang ikut mengantar ke Ngurah Rai) yang berada di luar gerbang check in bandara untuk tujuan pamit, ternyata dia dengan semangat bilang, “Dibya, tadi ada Tukul, aku ngejar2 mau ngajak foto, tapi dicuekin yahhhh kejar gih Dib! Siapa tahu kamu bisa foto ama dia!”…. sejenak terdiam, ntah gw harus bersyukur atau miris dengan kejadian ini hehehe..

Bali Lombok 2008

Sunday, April 6th, 2008

Delapan hari tengah maret lalu gw jalan2 ke Bali-Lombok

Tepatnya Jakarta>Sanur>Kuta>Lombok>Ubud>Kuta>

Jakarta

Bali_1 Komentar pertama jalan-jalan ke bali panass!(padahal di Bandung lagi hujan badai topan petir), juga mahall!, tapi itu tak tertandingi oleh serunya pengalaman baru ke pantai Kuta di pesisir selatan Lombok yang pasirnya seukuran merica dan warnanya putih bersih, juga balik ke hotel Wenara Bali, di kamar yang sama juga yang dulu gw tingali bareng Ifan dan Idham saat KKL ITB Bali 2002, kunjungan ke outlet joger (haha baru sekarang, telad banget Bos) juga makan malam sambil berwisata kuliner di resto Bebek Bengil (Ubud), sama Ayam Taliwang di tengah remangnya kota Mataram. Wiihh mantab, Melupakan (barang) sejenak semua urusan duniawi di

Bandung

, merehatkan jiwa hehehe..

Bali

, at conclusion makin kurang ramah dengan turis domestik, perbedaan perlakuan antara bule dengan domestik berasa banget saat di Padang Bai, juga saat makan malam di resto2 wahid, unfortunately hospitality just for the have, who pay them more.. bayangin pas di Padang Bai, bule bisa naik shuttle bus yang jadwalnya emang ada per jamnya kearah Ubud-Kuta, sedang domestik malah harus make L300 alias nyewa mobil sebiji! Edun, kok bisa sih pelancong dalam negri sendiri disulitin, dimahalin lagi,

Sekilas perjalanan gw:

:: Sanur, disini sebenernya statusku observer di symposium int’l tentang climate change and human settlement, penyelenggaranya pusat penelitian dan pengembangan permukiman di bawah kementrian perumahan rakyat kerja bareng ministry of public works japan, rajin uy bapak2 jepang ini bikin penelitian, tapi secara umum emang ini forum seriusnya puslitbangkim dan sarat agenda sesuai dengan roadmap penelitian unggulan mereka. Di Sanur, kami sehotel ama kru filmnya Sinemart, mereka selesaiin 10 judul sinetron dalam 3 bulan, wui2 emang bisnis entertainment itu edan2an ya investnya, juga hasilnya kayaknya mah.. sayangnya artisnya yang ada saat itu ntah2.. hehehe.

:: Lombok, (at glance) meski sehari aja terkesan masih jauh dari pengembangan yang baik dibanding potensi yang sama di

Bali

. Pantai dengan fasilitas yang masih ala kadarnya juga sistem akomodasi yang kurang memudahkan menyebabkan enggannya kita berlama2 di pulau dengan pantai yang konon mahsyur ini.. tapi Kuta, Senggigi, dan Gili Trawangan, serta ayam taliwang juga ayam betutu cukup membuat

Lombok

jadi list yang gw rekomen buat hanimun..

:: Ubud, it’s my 4th visit there. Outlet2 Monkey forest, resto2 butik, hotel butik, lembah2nya tetep bikin kangen juga sawah terasiringnya yang asli bagus bgt.. selama di

Bali

emang gw paling seneng tinggal berlama2 di Ubud, ngeliat seniman memproduksi kerajinan, dan suasananya yang khas banget, buat lo2 yang emang pengen kesana catat ya Hotel Wenara Bali, monkey forest, 0361-977384. Rekomen banget, selain murah view kamarnya ke sawah terasering dengan monyet2nya, gw saranin mending di Ubudnya wiken, ada pertunjukan tari Bali di wantilannya yang murah bgt.

:: Kuta, kalo ini wisatanya belanja, mampir ke joger dan standard nginep di poppies yang terjangkau. Hehehe, tapi gw heran itu pantai ko pasirnya makin curam aja ya, prasaan dulu masih landai, nyempetin juga ngintip design hotel2 baru yang ‘pantai oriented’, banyak yang baru dan bagus, property2 wisatanya makin meluas merayap ke luar wilayah Kuta yang gw amati terakhir gw kesana. Banyak mall, villa juga apartemen tinggi2. ga lupa mampir ke GWK, juga uluwatu, sayangnya penasaran gw masih belum terjawab karena ga jadi mampir ke dreamland. kita juga sempet makan di Jimbaran, makan di atas pasir pantai di tepi laut yag deburannya kenceng juga beratap langit bertabur bintang, plus city light Denpasar malam hari ngeliat kea rah seberang teluk, wah2 suasananya priceless.. (hahaha ngakunya priceless, tapi gw tetep nganggep makan disana mahall bangeettt.., maklumlah masih asisten2 di kampus ini) lobster yang sekilonya 350rb, udang segede 5×1 cm satunya 35rb, nila merah sekilo 200rb. next time mungkin gw bisa nemuin spot yang teroke, lebih murah dengan suasana yang sama, semoga..

overall, Bali tetep tidak membosankan, gw ngerasa fresh bgt  balik dari

sana

,

Lombok

juga, ohya, Pantai Kuta di Lombok recomended Bos, di pesisir selatan, magnificent n nice! semoga selanjutnya traveling serta perjalanan arsitekturnya lebih oke juga cerita2nya lebih seru. Hehehe amin,

Bali

see you soon..

matahari terbit di selat lombok

Sunday, April 6th, 2008

berangkat jam 12 teng dini hari dari Narmada, sambil ngantuk ngangkat2 barang di Lembar, dan naik perahu ferry swasta.

semua ga rugi saat melihat pemandangan ini. it’s magnificent sunrise, sesaat sebelum mendarat di Padang Bai.

begitu indah alam ini untuk dilewatkan, yuk travelling lagii…Lombok