Jakarta Bandung, kota2 Mall jaya raya
„Sumpeh lo? mall baru lagi? Dimana bo? Dimana?“
Bertambahnya pusat perbelanjaan kayaknya oke-oke aja buat kelompok mall goers, dan pengusaha retail dalam skala raksasa, ya iya lah buat si retailer duit mengalir deras dengan kunjungan warga kota yang rindu akan ruang2 publik berkualitas, dan buat mall goers makin banyak alternatif tempat ngeceng. namun proyek semacam ini menjadi dilema bagi kelompok arsitek senior yang sempat dby ngobrol pada beberapa kesempatan. Dikerjakan malah bikin rusak ga dikerjakan gimana lagi wong penghasilannya adanya disitu kok…
Jadi gini ceritanya..
Percaya atau tidak pembangunan mall di jakarta Bandung akhir-akhir mengalami penambahan sebanyak 100 unit! city walklah, town squarelah, hypersquarelah, plazalah.. eits jangan jadi seneng dulu dengan istilah2 tersebut karena sebutan itu hanya kamuflase ruang kota skala luas berupa daerah komersial yang dibuat seolah-olah ruang publik, yang pasti makin besar penambahan luasan lantai untuk mengeruk untung berlimpah dengan makin banyaknya pengunjung. Dan berduyunlah warga kota menyemut mendatangi mall2 tersebut, apalagi pada mall yang mengusung tema baru semacam taman, koridor makan yang mengadopsi ruang kota di belahan bumi lain seperti Singapore atau Eropa
Sebut saja senayan city, la piazza di kelapa gading, pondok indah mall2, paris van java, grand Indonesia, dan sederet ruang komersil berhektar-hektar yang baru terbangun, seiring dengan perkembangn tersebut muncul pula kekhawatiran anak muda Indonesia di Bandung-Jakarta semakin tumbuh menjadi generasi yang konsumtif dan memble.
Tenant asing sebangsa debenhams, carrefour, harrods, kinokuniya, sogo, blitz megaplex yang menggelar barang eksklusif mulai tumbuh subur. Dan gaya hidup ala televisi pun menular dengan sangat cepat, mereka seharian nongkrong di mall, mudi-mudi bergaya ala personel ratu dengan kostum harajuku sudah menjadi hal yang biasa di pusat keramaian seperti Bandung Indah Plaza atau Blok M plaza. Tapi kenapa ya toko2 eropa itu mau buka cabang di jakarta bandung?
Dan ternyata kebingungan mengapa semua ini terjadi terjawab bila kita membaca statistika dari singapore bahwa WNI merupakan turis asing dengan jumlah terbesar masuk ke negara kecil itu untuk tujuan belanja!. Jadi saudara2, dari 260 juta manusia yang ada di Indonesia 15% adalah kelompok kaya luar biasa yang kerjaannya menabur uang di berbagai tempat yang ia bisa dan ini merupakan target pasar yang sangat potensial untuk pengembangan ruang belanja eksklusif yang makin menjamur. Terutama di jakarta dan bandung.
Dan semua fenomena ini menjadi sebuah dilema bagi arsitek yang dari awal dapat melihat gelagat kurang baik terutama dalam koridor desain kota dan space untuk tinggal terkait kebutuhan utama masyarakat.
Proyek2 yang ada sekarang ini ya mall ya apartemen notabene merupakan masalah dalam tataran yang lebih global, apartemen menjadi rumah kedua yang selalu kosong meski kebutuhan akan rumah terjangkau dan layak bagi mayoritas warga kota masih mengalami kekurangan pasokan yang sangat besar, dan tempat pergaulan eksklusif papan atas ini memicu urbanitas yang makin liar. Fragmentasi sosial, masalah sosial seperti pergaulan bebas dan narkotika semakin mendapatkan ruang dengan pengamanan ketat alih-alih menjaga ruang privat bagi penghuni yang sudah berani bayar mahal. Apakah kita terus biarkan spekulasi2 yang berkutat dengan uang dan penghasilan kelompok tertentu ini mengorbankan komunitas urban yang masih tumbuh berkembang untuk belajar? Sedang di sisi lain tembok2 tinggi masif sebagai ekspresi modernitas bagi tipologi mall terus berkembang di tengah perencanaan urban kita? Kapan ya lingkungan impian yang ramah dan mendukung pendidikan anak-anak kita ada di tengah habitat kita? Beruntunglah Madiun, Banda Aceh, Bukittinggi, Bontang yang belum memulai perencanaan serupa, ataukah nasib yang sama akan juga terwujud disana? Moga2 aja ga…