Berbanjir-banjir di Jakarta kota!

Banjirdalem_22 februari 2002, jakarta banjir luber kemana2 , sebagian berfikir tak akan terjadi kejadian yang lebih dahsyat dari kejadian tersebut. Nyatanya Allah berkehendak lain dan tepat 5 tahun sejak banjir gila2an tersebut. Jakarta kembali luber, kali ini jauh lebih gila! kantor2 tutup hampir semingguan, sekolah2 ’diliburkan’, dan seperti biasa, angka statistika kematian mengekor kejadian luar biasa yang sepertinya menjadi tradisi dan kebiasaan.. tersengat listrik akibat arus pendek, tenggelam tak bisa berenang, jantung dan alergi dingin akut dan yang pasti capeknya mental akan kapan semua ini segera diakhiri.. ga usah muluk de, setidaknya kapan lah segera mulai ditangani..

Siang itu , 2 februari 2007, dby sedang bersiap mengadakan survei rusun di pusat Jakarta untuk keperluan thesis, dengan kemudahan transportasi dari Bandung yang melesak menuju Pondok Indah, dby berhasil ’mengungguli’ kendaraan lain yang terlanjur terjebak dalam antrian kemacetan mobil di tol dalam kota hanya dengan total waktu tempuh 2.5 jam! Bayangkan antrian mobil ratusan kilo yang menyebabkan pengendaranya sampai pada hitungan jam kesepuluh dari jadwal keberangkatannya dari Bandung.. Alhamdulillah meski disana-sini nampak kepungan air dan warga yang meminta bantuan angkutan dby dapat mencapai daerah Thamrin-Sudirman dengan sangat lancar, dan sampai di lokasi rusun Tanah Abang, Kebon Kacang, Bendungan Hilir, Penjaringan, tempat lokasi kajian. Baru berkeliling ke 2 lokasi rusun nampak jalur busway dan angkutan umum sudah diberhentikan akibat air meninggi dan thamrin penuh dengan mobil berhenti total. Waktunya berhenti dan menyelamatkan diri…

Teringat kembali malam suram sekitar April 2004, waktu itu dby pulang dari kantor Bank Syariah Mandiri dan mendapati busway penuh sesak hingga manusia memenuhi bus trans dengan kepadatan maksimal. Saat itu waktu tempuh busway trayek BI-Blok M yang biasanya setengah jam dilalui selama 7 jam! Naudzubillah mindzalik, jangan sampai terulang, menginjakkan kaki di Kemang pukul 1 dini hari! Akhh..

sehingga sore itu diputuskan sewa ojek meski tarifnya ga kira2, 30 ribu, hanya untuk melewati 1 kompleks di bilangan Setiabudhi dari Bunderan HI ke SMU 3 Jkt. Untung tertampung di kosan mas Krisna (abangnya Indra). Esoknya dengan pemberangkatan awal Xtrans, kembali ke bandung, sayang survey tak dapat dilanjutkan, tapi kondisi tak lagi memungkinkan

Sepanjang perjalanan teringat buku ’menyiasati kota tanpa warga’, mengapa Jakarta menduduki peringkat buncit dari 150an kota besar di Asia! data lain dari koran kompas 2 hari kemudian menunjukkan ’prestasi’ loyo Jakarta dalam urutan livable city rank versi UN, gencetan cemooh warga penghuninya juga cetusan pemerhati kota yang kritis sangat mengherankan tidak membuat pemkot bertindak lebih sigap. Tumpang tindihnya badan yang menangani, mudahnya pembelokan peruntukan oleh taipan berdollar, laju penambahan penghuni (yang bukan merupakan warga pendukung kehidupan urban, hanya sekedar tinggal dan memilih berinvestasi lebih banyak di daerah), serta sederet panjang usaha pemilahan masalah yang perlu segera ditangani. Banjir, hunian kumuh, transpotrasi massal yang berantakan ( keteterannya proyek busway dan monorail) adalah PR besar yang menuntut penyelesaian strategis. Mungkinkan kita perlu berkaca pada Jepang yang rela menderita bersama akibat PD2 dan kemudian maju bersama pada era industrialisasi ekspansif dan akhirnya seluruh penduduknya sejahtera dewasa ini, dengan menata kembali kota2 kita dengan perencanaan ruang yang lebih kompak antara hunian-lokasi kerja-belanja, berpihak pada warga mayoritas dengan kemajuan sektor riil di bidang ekonomi, serta gotongroyong dengan saling bina antar kelas sosial. Betapa rindunya kami akan kebahagiaan itu dalam kehidupan berkota kita.

Leave a Reply