Archive for February, 2007
Berbanjir-banjir di Jakarta kota!
Monday, February 5th, 2007
2 februari 2002, jakarta banjir luber kemana2 , sebagian berfikir tak akan terjadi kejadian yang lebih dahsyat dari kejadian tersebut. Nyatanya Allah berkehendak lain dan tepat 5 tahun sejak banjir gila2an tersebut. Jakarta kembali luber, kali ini jauh lebih gila! kantor2 tutup hampir semingguan, sekolah2 ’diliburkan’, dan seperti biasa, angka statistika kematian mengekor kejadian luar biasa yang sepertinya menjadi tradisi dan kebiasaan.. tersengat listrik akibat arus pendek, tenggelam tak bisa berenang, jantung dan alergi dingin akut dan yang pasti capeknya mental akan kapan semua ini segera diakhiri.. ga usah muluk de, setidaknya kapan lah segera mulai ditangani..
Siang itu , 2 februari 2007, dby sedang bersiap mengadakan survei rusun di pusat Jakarta untuk keperluan thesis, dengan kemudahan transportasi dari Bandung yang melesak menuju Pondok Indah, dby berhasil ’mengungguli’ kendaraan lain yang terlanjur terjebak dalam antrian kemacetan mobil di tol dalam kota hanya dengan total waktu tempuh 2.5 jam! Bayangkan antrian mobil ratusan kilo yang menyebabkan pengendaranya sampai pada hitungan jam kesepuluh dari jadwal keberangkatannya dari Bandung.. Alhamdulillah meski disana-sini nampak kepungan air dan warga yang meminta bantuan angkutan dby dapat mencapai daerah Thamrin-Sudirman dengan sangat lancar, dan sampai di lokasi rusun Tanah Abang, Kebon Kacang, Bendungan Hilir, Penjaringan, tempat lokasi kajian. Baru berkeliling ke 2 lokasi rusun nampak jalur busway dan angkutan umum sudah diberhentikan akibat air meninggi dan thamrin penuh dengan mobil berhenti total. Waktunya berhenti dan menyelamatkan diri…
Teringat kembali malam suram sekitar April 2004, waktu itu dby pulang dari kantor Bank Syariah Mandiri dan mendapati busway penuh sesak hingga manusia memenuhi bus trans dengan kepadatan maksimal. Saat itu waktu tempuh busway trayek BI-Blok M yang biasanya setengah jam dilalui selama 7 jam! Naudzubillah mindzalik, jangan sampai terulang, menginjakkan kaki di Kemang pukul 1 dini hari! Akhh..
sehingga sore itu diputuskan sewa ojek meski tarifnya ga kira2, 30 ribu, hanya untuk melewati 1 kompleks di bilangan Setiabudhi dari Bunderan HI ke SMU 3 Jkt. Untung tertampung di kosan mas Krisna (abangnya Indra). Esoknya dengan pemberangkatan awal Xtrans, kembali ke bandung, sayang survey tak dapat dilanjutkan, tapi kondisi tak lagi memungkinkan
Sepanjang perjalanan teringat buku ’menyiasati kota tanpa warga’, mengapa Jakarta menduduki peringkat buncit dari 150an kota besar di Asia! data lain dari koran kompas 2 hari kemudian menunjukkan ’prestasi’ loyo Jakarta dalam urutan livable city rank versi UN, gencetan cemooh warga penghuninya juga cetusan pemerhati kota yang kritis sangat mengherankan tidak membuat pemkot bertindak lebih sigap. Tumpang tindihnya badan yang menangani, mudahnya pembelokan peruntukan oleh taipan berdollar, laju penambahan penghuni (yang bukan merupakan warga pendukung kehidupan urban, hanya sekedar tinggal dan memilih berinvestasi lebih banyak di daerah), serta sederet panjang usaha pemilahan masalah yang perlu segera ditangani. Banjir, hunian kumuh, transpotrasi massal yang berantakan ( keteterannya proyek busway dan monorail) adalah PR besar yang menuntut penyelesaian strategis. Mungkinkan kita perlu berkaca pada Jepang yang rela menderita bersama akibat PD2 dan kemudian maju bersama pada era industrialisasi ekspansif dan akhirnya seluruh penduduknya sejahtera dewasa ini, dengan menata kembali kota2 kita dengan perencanaan ruang yang lebih kompak antara hunian-lokasi kerja-belanja, berpihak pada warga mayoritas dengan kemajuan sektor riil di bidang ekonomi, serta gotongroyong dengan saling bina antar kelas sosial. Betapa rindunya kami akan kebahagiaan itu dalam kehidupan berkota kita.
My desktop ‘pals’!
Monday, February 5th, 2007walah dah pada muncrat kemana-mana yah.. gimana kabarnya nih? Firman di singapore? Idham di Sorowako? cicik di penang? Zaki di banda? Jiwa di lamno? Rudi di jakarta? Ikeow di bali? Menik? Ima di amrik? Erik di karanganyar? Ayu di gresik? Frendy di bappenas? juga lainnya, palagi yang jaman2 sma… lohana? Endik? Rohman? Nyamin?juga ratusan lainnya di malang? Bogor? makasar? Banda aceh? Jakarta? kapan ketemuan lagi ya’ pengen melancong macam kalian…, soon abis lulus sekolah insyaAllah, doain yah cepet lulusannya, hueheehehe..
byebye!
Monday, February 5th, 2007Duo kompak drafter yang gambarin proyek dibya bareng pak Indra dan Pak Wijaya serta Teh Alis..
Kalo ga salah Pasar Rawa Indah di Bontang ma apartemen dan sedikit desain awal untuk studi clubhouse di Pesona Mahakam, Samarinda
Duo ni drafter andalan dibya yang ternyata memilih pindah ke tempat kerja baru di FAM Building jalan Merdeka.. ga ada sedih melepas mereka yang ada kita malah makan2 besar di Pizza Hut yang konon baru pertama kali mereka datangi pada sore itu, fun mungkin lebih tepat!
Akh bapak2.. makasih banyak yah atas nasehat dan masukan buat dby selama ini tentang seluk beluk berkeluarga, pemahaman beragam dan banyak hal yang kita share insyaAllah menambah ilmu dan kebulatan tekad untuk maju dan lebih baik.. thanks pak2 berdua yang ngajarin dibya bahwa lebih baik bukanlah sesuatu yang kita harapkan namun sesuatu yang akan kita wujudkan… ditagih ya janji makan2 kedua sebulan lagi di gajian pertama di Atmosphere huehehehehee.. hope you always be better.. bigger.. wealthier, and more prosperous for your life and family, Thanks a lot and See you then pak!
….amin amin amin….
Monday, February 5th, 2007Long road to heaven, a review
Monday, February 5th, 2007
Nia Dinata, sounds a name of breakthrough of Indonesian film maker. Lewat film baru yang disponsorinya, long road to heaven, bercerita tentang bom bali yang merupakan satu dari serangkaian true event, yang 2002an pastinya sempat membuat kita memusatkan perhatian ke layar kaca berita bangsa yang carut marut akibat beruntunnya bencana, korupsi, dan sederet kejadian lain yang membuat kita waktunya terus bersabar dan membentengi diri dengan keyakinan dan pengetahuan yang selayaknya.
Di film ini diceritakan sebuah kisah dengan alur yang agak ceplak cepluk antara zaman persiapan pengeboman kelompok yang ntah mengapa nampak kurang ‘neroris’ dan kurang digambarkan ‘militan’, dan masa2 7 bulan kemudian saat diadilinya amrozi, imron, dan imam samudra.
Penggambaran masa sesudah pengeboman relative lebih enak ditonton dengan deskripsi suasana pengadilan para tersangka, tapi saat detik2 pengeboman yang dby pribadi penasaran berat kok kerasanya hambar pisan.. acting surya dan alex komang kikuk dengan penggambaran karakter yang kurang kokoh sebagai hambali dan wayan seorang yang traumatis akibat bomb. Mereka ga ada pun bisa jadi membuat film ini lebih baik, karena perannya selain insignifikan, juga bikin males yang nonton gara2 keluar dengan dialog lambat2, dan memperlama durasi tayang dengan diam *mmmrrrggghh…*
Secara umum nonton film ini seperti ngeliat adegan rekonstruksi atau rada2 dokumenter dengan pengambilan gambar yang sedikit ngameramen lah… Ga ada unsur pengelaborasian kisah yang membuat terhanyut atau setidaknya menjadi paham kecuali pertanyan ‘kok?’ yang berulang saat adegan terjawabnya pemilihan pulau bali akibat Muklas yang diperlakukan dengan kurang sopan saat mau masuk lift,(inikah penggambaran piciknya pemahaman Islam *pada beramai pemeluknya dengan cara lagi2 mencemooh* oleh media yang kuat dan selalu direpetisi pada berbagai kejadian?)
Atau imron yang meninggalkan arnasan yang tiba2 siap mati sedang dianya sendiri kabur, juga si samudranya sendiri yang ga meledakkan diri bersamaan dengan bom di konsulat amerika di bali, lah.. katanya militant dan siap mati sahid (dan di awal dibilang akan diledakkan sendiri oleh dia) kok tiba2 didelegasikan gitu aja?
Atau juga amrozi yang memasukkan gambar porno ke laptop samudra karena masalah personal (namun tepatnya memberi pertanyaan tentang semilitan apa si Amrozi yang bela2in berteriak dengan lantang Allah is the Great namun masih browsing gambar2 begituan),
Dan pertanyaan besar yang terus mengganjal dan bikin gemes kalimat long road to heaven itu sendiri keluar dalam sebuah dialog yang bisa jadi obrolan sangat ringan dari kejadian yang terselip di antara beberapa adegan utama yang menimbulkan trauma dahsyat bagi warga Bali dan juga muslim mayoritas yang sejatinya menjunjung tinggi kedamaian dengan penyelesaian cara2 yang bijak. Andai feeling long road to heavennya dapat dengan cara lain, mungkin yang keluar dari gedung bioskop lebih jadi mikir dan ngerasa dalem, nyatanya ga tuh.. yang tergambar malah pemahaman yang rendah dari sekelompok yang konon kabarnya militant dengan aksi teroris, nah film ini jadi membingungkan dengan makin mempersempit makna nilai-nilai agama tertentu yang mendasar dengan kurang proporsionalnya penggambaran sebuah kejadian.
Jakarta Bandung, kota2 Mall jaya raya
Monday, February 5th, 2007
„Sumpeh lo? mall baru lagi? Dimana bo? Dimana?“
Bertambahnya pusat perbelanjaan kayaknya oke-oke aja buat kelompok mall goers, dan pengusaha retail dalam skala raksasa, ya iya lah buat si retailer duit mengalir deras dengan kunjungan warga kota yang rindu akan ruang2 publik berkualitas, dan buat mall goers makin banyak alternatif tempat ngeceng. namun proyek semacam ini menjadi dilema bagi kelompok arsitek senior yang sempat dby ngobrol pada beberapa kesempatan. Dikerjakan malah bikin rusak ga dikerjakan gimana lagi wong penghasilannya adanya disitu kok…
Jadi gini ceritanya..
Percaya atau tidak pembangunan mall di jakarta Bandung akhir-akhir mengalami penambahan sebanyak 100 unit! city walklah, town squarelah, hypersquarelah, plazalah.. eits jangan jadi seneng dulu dengan istilah2 tersebut karena sebutan itu hanya kamuflase ruang kota skala luas berupa daerah komersial yang dibuat seolah-olah ruang publik, yang pasti makin besar penambahan luasan lantai untuk mengeruk untung berlimpah dengan makin banyaknya pengunjung. Dan berduyunlah warga kota menyemut mendatangi mall2 tersebut, apalagi pada mall yang mengusung tema baru semacam taman, koridor makan yang mengadopsi ruang kota di belahan bumi lain seperti Singapore atau Eropa
Sebut saja senayan city, la piazza di kelapa gading, pondok indah mall2, paris van java, grand Indonesia, dan sederet ruang komersil berhektar-hektar yang baru terbangun, seiring dengan perkembangn tersebut muncul pula kekhawatiran anak muda Indonesia di Bandung-Jakarta semakin tumbuh menjadi generasi yang konsumtif dan memble.
Tenant asing sebangsa debenhams, carrefour, harrods, kinokuniya, sogo, blitz megaplex yang menggelar barang eksklusif mulai tumbuh subur. Dan gaya hidup ala televisi pun menular dengan sangat cepat, mereka seharian nongkrong di mall, mudi-mudi bergaya ala personel ratu dengan kostum harajuku sudah menjadi hal yang biasa di pusat keramaian seperti Bandung Indah Plaza atau Blok M plaza. Tapi kenapa ya toko2 eropa itu mau buka cabang di jakarta bandung?
Dan ternyata kebingungan mengapa semua ini terjadi terjawab bila kita membaca statistika dari singapore bahwa WNI merupakan turis asing dengan jumlah terbesar masuk ke negara kecil itu untuk tujuan belanja!. Jadi saudara2, dari 260 juta manusia yang ada di Indonesia 15% adalah kelompok kaya luar biasa yang kerjaannya menabur uang di berbagai tempat yang ia bisa dan ini merupakan target pasar yang sangat potensial untuk pengembangan ruang belanja eksklusif yang makin menjamur. Terutama di jakarta dan bandung.
Dan semua fenomena ini menjadi sebuah dilema bagi arsitek yang dari awal dapat melihat gelagat kurang baik terutama dalam koridor desain kota dan space untuk tinggal terkait kebutuhan utama masyarakat.
Proyek2 yang ada sekarang ini ya mall ya apartemen notabene merupakan masalah dalam tataran yang lebih global, apartemen menjadi rumah kedua yang selalu kosong meski kebutuhan akan rumah terjangkau dan layak bagi mayoritas warga kota masih mengalami kekurangan pasokan yang sangat besar, dan tempat pergaulan eksklusif papan atas ini memicu urbanitas yang makin liar. Fragmentasi sosial, masalah sosial seperti pergaulan bebas dan narkotika semakin mendapatkan ruang dengan pengamanan ketat alih-alih menjaga ruang privat bagi penghuni yang sudah berani bayar mahal. Apakah kita terus biarkan spekulasi2 yang berkutat dengan uang dan penghasilan kelompok tertentu ini mengorbankan komunitas urban yang masih tumbuh berkembang untuk belajar? Sedang di sisi lain tembok2 tinggi masif sebagai ekspresi modernitas bagi tipologi mall terus berkembang di tengah perencanaan urban kita? Kapan ya lingkungan impian yang ramah dan mendukung pendidikan anak-anak kita ada di tengah habitat kita? Beruntunglah Madiun, Banda Aceh, Bukittinggi, Bontang yang belum memulai perencanaan serupa, ataukah nasib yang sama akan juga terwujud disana? Moga2 aja ga…
meet ponakan dby!
Monday, February 5th, 2007ada nevi, desi, neo, obi, dan ponakan tamu noval dan rafi yang sering ngikut acara keluarga besar di malang. Pastinya selalu ada ketawa, dan teriakan juga sering tangisan. Gara-gara meski sodaraan, mereka ngegang dan musuh bebuyutan, tapi seringkali kalo akur (terutama kalo lagi difoto, ditraktir makan) bikin yang tua2 terhura.. huahahahaha…
begitu polosnya sampai sering kitanya malah berkaca pada mereka dengan menemukan kemurnian nilai-nilai luhur versi kepolosan kanak-kanak. jujur, kalo marah (dan ga suka) diungkapkan, setia, dan penurut sama yang saat itu memimpin
namun ga jarang ketika dinasehatin mereka mulai membangkang, mulai main cakar, sampai komplain ke babenya masing2 kalo dah mulai gawat dan berdarah2 (hiperbolis ni)
yah begitulah, terimakasih buat keponakan yang selalu mengingatkan pulang ke Malang menjadi sangat menyenangkan, dan menemukan banyak keramaian, they’re devils & angels in the same little bodies
belajar dan sholat yang rajin yah bocah-bocah..


