Tour de Indonesia, my soul journey..
Banda Aceh, Lamno, Bukittinggi, Padang, Bandar Jaya, Bandar Lampung, Balikpapan, Samarinda, Bontang, Makassar, Pare-Pare, Tanah Toraja, Makale, Lombok, Gili Trawangan, Denpasar, Ubud adalah lokasi di luar Jawa dimana at least dibya pernah menghuni walau sementara, keberagaman dan keindahan bentang alam tetap mendominasi. Namun untuk lingkungan binaan, begitu jauhnya kita tertinggal (atau bahkan meninggalkan diri?) dengan kota-kota di luar negri, yang terang-terang ‘given wealth’nya lebih minim
Secara umum semua hampir mirip, involution (jalan di tempat) condition dan minimnya infrastruktur untuk berakomodasi serta transportasi, di luar isu maintenance obyek kunjungan yang juga merupakan sebuah masalah besar.
Keunikan nampak dengan sembunyi-sembunyi walau nyata-nyata merupakan potensi yang besar untuk kemajuan lokalitas bila terbina dengan baik, tapi mengapa tidak segera dibina yah? Yakin banyak banget ahli dan eksekutif yang berfikir hal yang sama dengan porsi kemampuan berbuat mereka yang besar tentunya.
Kebudayaan yang feodalis dengan pucuk pimpinan wilayah berkuasa (yang masih tak terhingga) adalah sesuatu yang menjengkelkan. Dengan semena, berkolusi dengan kerabat dekat, kerusakan bisa terjadi dengan mudahnya, akh.. kapan kita mulai optimis membangun negeri sendiri bila sekumpulan orang yang menyebalkan itu masih bertengger di
sana ?
halllloooo republik super duper kaya sumber dayaaaa… sadar ga si begitu kami rakyat jelata sudah bosan (lazim) menderita.. begitu rindu kami akan pemimpin dan pemuka yang berkaca pada hati nurani, melihat kami dengan apa adanya, membaca kami bukan hanya sebagai angka statistika semata
begitu tega, pengelola tidak menyegerakan pergerakan peradaban bangsa sendiri? Masihkan kita membiarkan segala terjadi, dimana membeli makanan untuk sarapan sudah semahal membeli benda yang sama di
Malaysia atau Singapura sedang pendapatan kita kurang dari sepersepuluh penghasilan mereka? Apalagi dengan mereka yang bersenang di Eropa atau Amerika dengan pendapatan beratus kali lipat dengan keahlian dan peluh yang sama yang kita keluarkan.
Kapan ya kita sejahtera? Mengingat kaum cerdik tangkas pandai cerdas tetap berkiblat pada bendera-bendera selain merah putih, dan kelihaiannya masih terasa bermanfaat bila pergerakan dilakukan terus dilakukan di luar kotak?
Pesimisme terus berkembang subur di tengah laju pertambahan penduduk yang kian hari kian membenamkan kita pada sebilyun masalah, menenggelamkan optimisme-optimisme personal dalam ratusan juta ketidakpedulian…
Saatnya kita bersama tidak lagi mengharap kuis di anteve menyelesaikan mimpi buruk keseharian kita… mengakhiri pemikiran bangsa lain bahwa kita bagian sederet bangsa brengsek yang pernah ada… menyetarakan kesempatan maju dan sejahtera dengan lingkungan yang baik dan menyehatkan..
Sederet sumpah serapah dan kecewa berlanjut bila tulisan ini diselesaikan.. biarkan saya berhenti disini. Berkaca sejauh mana saya sudah berbuat selama ini.. thanks for ur attention
January 16th, 2007 at 3:03 am
oops sorry pembaca.. sedang galau ni.. insyaallah saya tetap barisan optimistik kok , regards..
February 1st, 2007 at 8:02 pm
Wah kok pikiran kita sama yah soal negeri tercinta. Mo ikutan mbenahi juga ndak tau mulai di mana. Salahnya di sistem sih yang gak bisa diperbaiki sama individual. Butuh komitmen bersama! Moga2 aja makin banyak orang yang sadar yah. Syukur2 kalo orang2 atas di pemerintahan juga nyadar. sigh….