Mind vs Heart

melihat foto ibu tua sendiri di satu gang kecil buntu ini membuat dibya terharu. Photo ini dibya ambil saat survey perkampungan kota di tepian Sungai Cikapundung daerah deket Balaikota Bandung. Pas ngerjain tugas design research semester genap tahun awal. Mmm mungkin sekitar awal 2006 lalu kali.., namun hebatnya sampai saat ini menjadi 1 foto favorit setiap kali ngeliat koleksi2 jepretan amatiran folder kamera digital. Ntah kenapa,…
secara fotografi jelas standard abis, blurry pesolima malah! Tapi liat dengan lebih detail de obyeknya, Sang Ibu ini seolah ga punya rumah, juga ga punya saudara, dia hidup dengan menenteng segepok baju dan berpindah. Makanan sisa yang juga mungkin pemberian dipegang erat seolah itu menu satu2nya tanpa pilihan.
Di sekitarnya, Ruang kota terasa terlalu keras untuk sekedar mengisi waktu senggangnya yang juga mungkin tanpa tujuan. Sehingga sang ibu mencari ruang tenang tak bertuan, (dalam kamus idham,) terdefinisi sebagai ruang tak terduga akibat pengembangan tak terencana penduduk kota, (kamu ajaib bro.. huehehehe)
Pemandangan yang sungguh miris, mungkinkah karena beliau ga punya anak? Atau ga punya lagi suami? Akh.. atau mungkin dia merasa lebih nyaman tak membahasnya. Diperhatikan dengan seksama pun beliau memilih enggan dan memutar pandangan, menjauh, membelakang… kulihat mendung membayangi pandangan kedua matanya..
Tercekat dan ingin memulai sedikit pembicaraan, namun kelompok survey semakin menjauh dan mulai terlihat hilang, mengejar mereka atau menyapa sejenak sang ibu tua,, adalah detik2 dilema yang terisi dengan chemistry mendalam antara dibya dengan palingan pandang sang ibu tua. Namun tetap saja terisi dengan diam. Akhh..
“Sabar Ibu.. mungkin dunia terasa tidak adil, tapi yakin Tuhan Maha Adil. Bila ia menghendaki semua akan diwujudkan dalam jangka dekat di depan mata atau kelak di dunia yang lebih layak…”
dan seolah sang ibu menjawab dengan tenang
”Sudahlah anak muda, berlanjutlah, Aku tidak sepenting yang kau kira,.. Sudah Sudah… aku dapat mengatasi ini, berlanjutlah…”
tau kalo bakal kepikiran selama ini, mungkin bila ada kesempatan kedua dan kesekian perjumpaan itu terulang, dibya memilih untuk menyapanya tanpa berfikir lebih panjang. The mind doubts, but the heart never does.
…Ati-ati ya Ibu.. doa kami menyertaimu..