Meneliti versus merancang

Dscn4531 2 aktivitas yang sekarang dibya geluti sehari-hari, ya meneliti ya merancang, dari awalnya dibya merasa sangat sulit untuk berkegiatan sebagai peneliti yang menuntut runutan langkah kerja dan pola pikir yang rapi.. you know lah as right brain dominant semua serba terfikir mendadak dan kadang focus meluas tak terhingga. Ini menjadi bumerang bagi dibya yang terbiasa melakukan metode black box alias menunggu wangsit. Dan terpaksa melalui langkah dan metode yang terstruktur alias glass box dengan baik dan benar.

kemudian terfikir ini mungkin yang disebut dengan dengan out of the box!, keluar dari kotak yang selalu mengurung kita, dan kemudian hari-hari dibya terisi dengan studi literature, analisa persoalan dengan teorema, lesson learned dari kejadian yang diamati, analisa pendapatan dan keterjangkauan obyek, sisi lemah sistem akhh.. jangan difikir ini sangat menyiksa ya.. yang bener sangaaaatttttt menyikksssaaaaaaaaaaaa.. hihihi.. seringkali dibya merasa bersyukur sekali pernah menjalani kehidupan sebagai arsitek junior yang meski capek diri begadang ternyata kadang terasa lebih menyenangkan. Capek hati dan otak ternyata lebih menderita *huooohuuooooo.. *

anyway itu semua preambule yang sedikit hiperbolis..

Desain ternyata di sela-sela kesulitan memulai meneliti, Tuhan Maha Adil, tetap dikirimnya peluang bekerja sebagai perancang, dan meski berat itu sangat menyenangkan saudara-saudara, menarik garis dengan sedikit keraguan mencong sana-sini, berimaginasi akan luasnya ruang dan warna, mempelajari gaya modern tropis minimalis yang dimau pemilik, mempelajari detail konstruksi ide2 baru, There i really meant to be *halaghhh..* bermain dengan CAD dan MAX ternyata jauh tidak membosankan..

di sisi lain sebagai peneliti dibya merasa layaknya anak kecil yang baru belajar, dengan terkagum-kagum mengamati tulisan yang berisi kesimpulan dan temuan ide kaitan beberapa fenomena yang merefleksikan betapa cerdasnya sang penulis di tengah situasi dunia yang serba naudzubillah masih berikhtiar untuk menjadi obyektif.

So many beautiful brains (I can see) trough those journals, essays, reports.. I start to crush on this kinda proffesion..

Apa pun itu menjadi peneliti atau perancang..  semoga paduannya menjadi sesuatu yang menyenangkan.. lewat tindakan nyata, selama memberi manfaat dan menjadikan panjang usia sebagai keberkahan..

*a tribute to Teh Alis yang tetep ngingetin dibya bahwa bertindak dan bermanfaat adalah kegiatan yang sebaiknya kita tetap fokuskan, thanks a billion!*

3 Responses to “Meneliti versus merancang”

  1. evi Says:

    could you invite me in your affiliation..?boleh juga dengan pemikiran seperti itu.aku bisa respect hal itu dan akhirnya setuju (meski agak sedikit dipaksakan, ndak pa2kan…) tapi aku pikir.. berpikir telalu terstruktur kadang bikin capek juga kan… so,akhirnya harus lebih balance (itu yang bikin hidup lebih hidup). agree..?

  2. dibja Says:

    yayayaya evi yah
    masalahnya dby juga ga paham ni gimana cara bikin afiliasi… gw gaptek banget inside huahahahaha.. nice to meet you

  3. dibja Says:

    yayayaya evi yah
    masalahnya dby juga ga paham ni gimana cara bikin afiliasi… gw gaptek banget inside huahahahaha.. nice to meet you

Leave a Reply